Kumpulan Syarah Sabda-sabda Sahib Al-Zaman af (2)

Mungkinkah Bumi Kosong dari Seorang Imam…?

  23-3.jpg 

ان الارض لا يخلو من حجة اما ظاهرا و اما مغفورا

“Sesungguhnya, bumi tidak akan pernah kosong dari seorang Hujjah(Imam), baik ia tampak ataupun tersembunyi”[1]

 Syarah:           

Sabda ini adalah petikan dari tauqiat (komunikasi tertulis) yang ditulis oleh Imam Zaman af kepada Usman bin Said Al-‘Amri dan putranya Muhammad, beliau setelah berpesan banyak tentang beberapa masalah, kemudian beliau mengingatkan pada suatu permasalahan berikut, beliau bersabda: …dipermukaan bumi, harus selalu ada (seorang)hujjah Allah SWT, dan tidak dapat dibayangkan walau sedetik pun jika tidak ada seorang Imam Yang maksum (Terjaga dari dosa). 

Kebutuhan manusia dan makhluk lainnya kepada seorang imam adalah kelanjutan dari kebutuhan mereka kepada seorang rasul. Kebutuhan manusia kepada seorang yang maksum, baik itu seorang rasul ataupun imam, dapat kita teliti dari beberapa sudut pandang dan pendapat yang berbeda. Salah satunya adalah kebutuhan mereka  kepada undang-undang Ilahi dan penafsirannya dari seorang yang maksum. Dalam buku-buku teolog, telah dibuktikan melalui dalil-dalil akal bahwa manusia untuk memperbaiki kehidupan dunianya dan sampai pada kebahagiaan abadi di akherat kelak, membutuhkan seorang rasul.

Kebutuhan manusia pada agama dan tafsiran yang benar tentang agama tersebut adalah sesuatu yang abadi. Nabi besar Muhammad SAWW datang dan membawa agama Islam sebagai agama Tuhan yang terakhir, dan seluruh hukum-hukumnya telah diterangkan secara sempurna. Dan setelah beliau wafat, dengan dalil-dalil akal harus ada seseorang yang dipilih dari seluruh manusia yang memiliki kemampuan seperti Nabi dalam bidang ilmu dan Ismah (keterjagaan dari dosa), dan mereka adalah tidak lain para imam yang terpilih. 

Dikarenakan lemahnya masyarakat dalam menerima kebenaran, Imam Zaman af juga mengingatkan pada satu ponit penting, bahwa tidak semua dari para imam harus memimpin suatu pemerintahan atau selalu hadir dan berada di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana juga para nabi dan para washi­ terdahulu yang tidak semuanya juga mencapai pada sebuah pemerintahan dan sebagian dari mereka juga tidak hadir dalam beberapa waktu di tengah-tengah masyarakat. [ ]


[1] Kamaluddin jilid 2, hal 511, Biharul Anwar jilid 53 hal. 191 catatan ke 19


2 Tanggapan ke “Kumpulan Syarah Sabda-sabda Sahib Al-Zaman af (2)”


  1. 1 rivafauziah Agustus 27, 2007 pukul 4:59 pm

    bahwa manusia untuk memperbaiki kehidupan dunianya dan sampai pada kebahagiaan abadi di akherat kelak, membutuhkan seorang rasul… mantab

  2. 2 damartriadi September 20, 2007 pukul 12:16 am

    Great Argument…!
    Kebutuhan manusia akan seorang imam merupakan bentuk yang sama dari kebutuhan manusia akan seorang nabi/rasul.
    Diketahui bahwa sumber pengetahuan dapat terbagi menjadi tiga:
    1. Indera
    2. Akal
    3. Wahyu
    Berbagai ketimpangan dalam peradaban terjadi karena manusia menafikan salah satu dari tiga sumber itu. Dan yang perlu diptertegas adalah bahwa ketiga sumber ini akan tetap diperlukan selama manusia masih berjalan di muka bumi.
    Diutusnya para nabi, yang menurut riwayat berjumlah 120.000 orang, merupakan perwujudan dari sumber pengetahuan wahyu tersebut.
    Dengan berakhirnya kenabian, maka imamah merupakan perwujudan masa kini dan masa depan dari bentuk sumber pengetahuan wahyu tersebut.
    Kalau manusia tidak memerlukan imam, maka apa yang menyebabkan dahulu ia memerlukan nabi?
    Oleh karena itulah imamah merupakan kelanjutan logis dari nubuah, karena Divine Leadership harus selalu ada, baik diterima maupun ditentang.


Tinggalkan Balasan